LAPORAN PENDAHULUAN
DENGUE HEMORRHAGIC FEVER
1. DEFINISI
a. DHF menurut Ngastiyah (1997, hal : 341) adalah infeksi akut yang disebabkan oleh argo virus (arthropodgorn virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes (aedes algopictus dan aedes aegepty).
b. Menurut Behrman ( 2000 ) Dengue Hemorrhagic Fever adalah sindrom klinik lunak yang disebabkan oleh beberapa virus yang dibawa arthropoda, ditandai dengan deman bifasik, mialgia atau artralgia, ruam, leukopenia, dan limfadenopati.
c. Pendapat dari ahli lain tentang Dengue Hemorrhagic Fever adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue ( arbovirus ) yang masuk kedalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti (Suriadi, 2001, hal : 157).
Dari berbagai pendapat diatas penulis menyimpulkan bahwa Dengue Hemorrhagic Fever adalah suatu penyakit infeksi virus yang disebabkan oleh virus dengue tipe I, II, III, IV yang ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes, ditandai dengan demam bifasik, mialgia atau atralgia, ruam, leukopenia dan limfadenopati.
2. ETIOLOGI
Penyakit DBD disebabkan oleh :
1. Virus dengue dengan tipe DEN 1
2. Virus dengue dengan tipe DEN 2
3. Virus dengue dengan tipe DEN 3
4. Virus dengue dengan tipe DEN 4
Virus tersebut termasuk dalam group B Arthropod borne viruses (arboviruses). Virus yang banyak berkembang di masyarakat adalah virus dengue dengan tipe satu dan tiga.
( www. litbang.depkes.go.id, 2005 )
3. KLASIFIKASI
a. Derajat I : Demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan, uji turniket positif, Trombositopeni dan hemokonsentrasi
b. Derajat II Derajat I disertai perdarahan spontan di kulit dan atau perdarahan lain
c. Derajat III Kegagalan Sirkulasi : nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit dingin, lembab, gelisah
d. Derajat IV Renjatan berat, denyut nadi dan tekanan darah tidak dapat diukur.
( Suriadi, 2001, hal : 59 )
4. PATOFISIOLOGI
a. Virus Dengue akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan kemudian akan bereaksi dengan antibody dan membentuk kompleks virus-antibody, dalam sirkulasi akan mengaktifasi sistem komplemen. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a, dua peptida yang berdaya untuk melapaskan histamin dan merupakan mediator kuat sebagai factor meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah dan menghilangkan plasma melalui endotel dinding itu.
b. Terjadi trombositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi (promtrombin, faktor V, VII, IX, X dan fibrinogen) merupakan faktor penyebab terjadinya perdarahan hebat, terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF.
c. Yang menentukan beratnya penyakit adalah meningginya permeabilitas dinding pemduluh darah, menurunnya volume plasma, terjadinya hipotensi, trombositopenia dan diatesis hemoragik. Renjatan terjadi secara akut.
d. Nilai hematokrit meningkat bersamaan dengan hilangnya plasma, klien mengalami hypovolemik. Apabila tidak diatasi bisa terjadi anoksia jaringan, asidosis metabolik dan kematian.
(Suriadi, 2001, hal : 5758)
PATOFLOW
Infeksi virus dengue
melalui gigitan nyamuk aedes aegypti
↓
Membentuk virus antibody
↓
Trombosit kehilangan Menstimulasi SSP Merangsang sel-sel
Fungsi agregasi dan meningkatkan sistem monosit, eosinofil,
Mengalami metamorfosis imun tubuh melawan neotropil dan makrofag
↓ infeksi ↓
Dimusnahkan oleh ↓ Mengeluarkan zat
Retikuloendoteal Peningkatan metabolisme pirogen endogen
↓ tubuh ↓
Trombositopenia ↓ Menstimulasi hipotalamus
↓ Peningkatan kerja ↓
Peningkatan permeabilitas sistem pencenaan Peningkatan suhu tubuh
Kapiler ↓ ↓
↓ Peningkatan produksi Metabolisme meningkat
Kebocoran plasma asam lambung ↓
ke daerah Ekstravaskuler ↓ Katabolisme penggunaan
↓ Mual dan pembakaran
Perdarahan ↓ energi meningkat
↓ Anoreksia ↓
Resiko kekurangan cairan ↓ Kelemahan fisik
Intake nutrisi ↓
tidak adekuat Intoleransi aktifitas
5. MANIFESTASI KLINIS
Gejala pada penyakit demam berdarah diawali dengan :
a. Deman tinggi yang mendadak 2 – 7 hari ( 38° C – 40° C ).
b. Manifestasi perdarahan, dengan bentuk : uji tourniquet positif puspura pendarahan, konjungtiva, epitaksis, melena dan sebagainya
c. Hepatomegali ( pembesaran hati )
d. Syok, TD menurun menjadi 20 mmHg atau kurang, tekanan sistolik sampai 80 mmHg atau lebih rendah
e. Trombositopeni, pada hari 3 – 7 ditemukan penurunan trombosit sampai 100.000/mm3
f. Hemokonsentrasi, meningkatnya nilai Hematokrit
g. Gejala-gejala klinik lainnya yang dapat menyertai : anoreksia, lemah, mual, muntah, sakit perut, diare, kejang dan sakit kepala
h. Pendarahan pada hidung dan gusi
i. Rasa sakit pada otot dan persendian, timbul bintik-bintik merah pada kulit akibat pecahnya pembuluh darah.
( www. litbang.depkes.go.id, 2005 dan Ngastiyah, 1997, hal :342-342)
6. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a. Pemeriksaan Trombositopenia (100.000 atau kurang).
b. Pemeriksaan Hematokrit konsentrasi.
Hematokrit yang meningkat 20% atau lebih dari hematokrit sebelumnya.
(Mediacentre/factsheets/fs117/en,2004).
c. Leukopenia (mungkin normal atau leukositosis)
d. Lg. D. dengue positif.
e. Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan : hipoproteinemia, hipokloremia dan hiponatremia.
f. Urium dan pH darah mungkin meningkat.
g. Asidosis metabolic : pCO2 < 35 – 40 mmHg dan GCO3 rendah.
h. SGOT / SGPT mungkin meningkat.
(Nursalam, M. Nurs, Rekawati Susilaningrum. SST, Sri Utami, 2005, hal : 165)
7. KOMPLIKASI
a. Syok
Pada Dengue Hemorrhagic Fever derajat IV akan terjadi syok yang disebabkan kehilangan banyak cairan melalui pendarahan yang diakibatkan oleh ekstravasasi cairan intravaskuler.
b. Ikterus pada kulit dan mata
Adanya pendarahan akan menyebabkan terjadinya hemolisis dimana hemoglobin akan dipecah menjadi bilirubin. Ikterus disebabkan oleh adanya deposit bilirubin.
c. Kematian
Kematian merupakan komplikasi lebih lanjut dari Dengue Hemorrhagic Fever apabila terjadi Dengue Shock Syndrom ( DSS ) yang akan berakibat kepada kematian.
( www. pdpersi.co.id, 2003 )
8. PENATALAKSANAAN
A. Medis
1. Demam tinggi, anoreksia dan sering muntah menyebabkan pasien dehidrasi dan haus. Pasien diberi banyak minum yaitu 1 ½ - 2 liter dalam 24 jam. Keadaan hiperpireksia diatasi dengan obat antipiretik dan kompres dingin. Jika terjadi kejang diberikan antikonvulsan. Luminal diberikan dengan dosis : anak umur < 12 bulan 50 mg im; anak > 1 tahun 75 mg. jika 15 menit kejang belum berhenti luminal diberikan lagi dengan dosis 3 mg/ kg BB. Infus diberikan pada pasien DHF tanpa renjatan apabila : pasien terus menerus muntah, tidak dapat diberikan minum sehingga mengancam terjadinya dehidrasi dan hematokrit yang cenderung meningkat.
2. Pasien mengalami syok segera dipasang infus sebagai pengganti cairan hilang akibat kebocoran plasma. Cairan yang diberikan biasanya RL. Jika pemberian cairan tersebut tidak ada respon diberikan plasma atau plasma ekspander banyaknya 20 – 30 mL/kg BB. Pada pasien dengan renjatan berat pemberian infus harus diguyur. Apabila syok telah teratasi, nadi sudah jelas teraba, amplitude nadi sudah cukup besar, tekanan sistolik 80 mmHg dan kecapatan tetesan dikurangi menjadi 10 mL/ kg BB/ jam. Pada pasien dengan syok berat atau syok berulang perlu dipasang CVV untuk mengukur tekanan vena sebtral melalui vena jugularis, dan biasanya pasien dirawat di ICU.
(Ngastiyah, 1997, hal : 344-345).
3. Cairan (rekomendasi WHO)
a. Kristaloid
1. Larutan Ringer Laktat (RL) atau Dextrose 5% dalam larutan Ringer laktat (D5/RL).
2. Larutan Ringer Asetat (RA) atau Dextrose 5% dalam larutan Ringer Asetat (D5/RA).
3. Larutan Nacl 0,9% (Garal Faali + GF) atau Dextrose 5% dalam larutan faali (D5/GF).
b. Koloid
1. Dextran 40
2. Plasma
(Arif Mansjoer, 2001, hal : 422)
B. Keperawatan
1. Derajat I
Pasien istirahat, obsevasi tanda-tanda vital setiap 3 jam, periksa Ht, Hb dan trombosit tiap 4 jam sekali. Berikan minum 1,5 – 2 liter dalam 24 jam dan kompres dingin.
2. Derajat II
Segera dipasang infus. Bila keadaan pasien sangat lemah sering dipasang pada 2 tempat karena dalam keadaan renjatan walaupun klem dibuka tetesan infus atau tetesan cairan tetap tidak lancer maka jika 2 tempat akan membantu memperlancar. Kadang-kadang 1 infus untuk memberikan plasma darah dan yang lain cairan biasa.
3. Derajat III dan IV (DSS)
a. Penggantian plasma yang keluar dan memberikan cairan elektrolit (RL) dengan cara diguyur kecepatan 20 mL/ kg BB/ jam.
b. Dibaringkan dengan posisi semi fowler dan diberikan O2.
c. Pengawasan tanda-tanda vital dilakukan setiap 15 menit.
d. Pemeriksaan Ht, Hb dan Trombosit dilakukan secara periodik.
e. Bila pasien muntah bercampur darah perlu diukur untuk tindakan secepatnya baik obat-obatan maupun darah yang diperlukan.
f. Makanan dan minuman dihentikan, bila mengalami perdarahan gastrointestinal biasanya dipasang nasogastrik tube (NGT) untuk membantu pengeluaran darah dari lambung. NGT perlu dibilas dengan Nacl karena sering terdapat bekuan darah dari tube. Tube dicabut bila perdarahan telah berhenti. Jika kesadaran telah membaik sudah boleh diberikan makanan cair walaupun feses mengndung darah hitam kemudian lunak biasa.
(Ngastiyah, 1997, hal : 345-346)
9. NURSING CARE PLAN
| NO. | DX | TUJUAN & KH | INTERVENSI | RASIONAL |
| 1. | Resiko kekurangan volume cairan b.d perdarahan | Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, maka diharapkan volume cairan tubuh adekuat dengan kriteria hasil : 1. Mempertahankan output urin > 1300 ml/ hr 2. Mempertahankan TD, nadi, suhu dalam rentang normal 3. Mempertahankan elastisitas, turgor kulit, membran mukosa tetap lembab, serta orientasi terhadap orang, tempat, waktu secara baik | 1. Kaji keadaan umum klien dan TTV. 2. Observasi adanya tanda syok. 3. Berikan cairan intravena sesuai program dokter. 4. Anjurkan klien untuk banyak minum | 1. Untuk mengetahui dengan cepat penyimpangan dari keadaan normalnya. 2. Agar dapat segera dilakukan tindakan untuk menangani syok yang dialami klien. 3. Pemberian cairan intravena sangat penting bagi klien yang mengalami defisit volume cairan. 4. Asupan cairan sangat diperlukan untuk menambah volume cairan tubuh. |
| 2. | Hipertermi b.d proses penyakit | Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, maka diharapkan : Suhu tubuh kembali normal dengan kriteria hasil : 1. Suhu tubuh normal (36-37ºC) 2. Pasien bebas dari demam | 1. Mengkaji saat timbulnya demam 2. Mengobservasi TTV : suhu, nadi, TD, RR setiap 3 jam atau lebih sering 3. Memberikan penjelasan tentang penyebab demam atau peningkatan suhu tubuh 4. Memberikan penjelasan pada pasien/keluarga tentang hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi demam dan menganjurkan pasien/keluarga untuk kooperatif. 5. Menjelaskan pentingnya tirah baring bagi pasien dan akibatnya juka hal tersebut tidak dilakukan. | 1. Untuk mengidentifikasi pola demam pasien 2. TTV merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien. 3. Penjelasan tentang kondisi yang dialami pasien dapat membantu pasien/ keluarga mengurangi kesemasan yang timbul. 4. Keterlibatan keluarga sangat berarti dalam proses penyembuhan pasien di rumah sakit 5. Penjelasan yang diberikan pada pasien/keluarga akan memotivasi pasien untuk kooperatif. |
| 3. | Nyeri b.d proses patologis penyakit | Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, maka diharapkan tidak terjadi nyeri dengan kriteria hasil : 1. Menggunakan rentang skala nyeri untuk mengidentifikasi tingkat nyeri dan menentukan rasa nyaman 2. Mengungkapkan bagaimana mengelola nyeri 3. Mengungkapkan kemampuan untuk beristirahat dan tidur 4. Mengungkapkan cara pengelolaan nyeri tanpa efek farmakologi | 1. Mengkaji tingkat nyeri yang dialami klien. 2. Mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi klien terhadap nyeri. 3. Memberikan posisi yang nyaman, usahakan situasi ruangan yang tenang. 4. Memberikan suasana gembira bagi klien, alihkan perhatian klien dari rasa nyeri. 5. Memberikan obat analgetik (kolaborasi dokter). | 1. Untuk mengetahui berapa berat nyeri yang dialami klien. 2. Reaksi klien terhadap nyeri dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. 3. Untuk mengurangi rasa nyeri. 4. Dengan melakukan aktivitas lain klien dapat sedikit melupakan perhatiannya terhadap nyeri yang dirasakan. 5. Untuk menekan dan mengurangi nyeri klien. |
| 4. | Ketidakseimbangan nutrisi; kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan pemasukan, mencerna makanan atau mengabsorbsi zat-zat gizi. | Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, maka diharapkan Nutrisi tubuh adekuat dengan kriteria hasil : 1. Memiliki keinginan untuk meningkatkan berat badan secara progresif 2. Berat badan dalam batas normal sesuai rentang tinggi badan dan usia 3. Mengidentifikasi kebutuhan nutrisi 4. Tidak memiliki tanda-tanda malnutrisi | 1. Mengkaji keluhan mual, sakit menelan dan muntah yang dialami oleh pasien. 2. Mengkaji cara bagaimana makanan dihidangkan. 3. Memberikan makanan yang mudah ditelan seperti : bubur, tim dan hidangan saat masih hangat. 4. Memberikan makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering. 5. Menjelaskan manfaat makanan/nutrisi bagi pasien terutama pada saat pasien sakit. 6. Memberikan umpan balik positif saat pasien mau berusaha menghabiskan makanannya. 7. Mencatat jumlah/porsi makanan yang dihabiskan oleh pasien setiap hari. 8. Memberikan nutrisi parenteral (kolaborasi dengan dokter). | 1. Untuk menetapkan cara mengatasinya. 2. Cara menghidangkan makanan dapat mempengaruhi nafsu makan pasien. 3. Membantu mengurangi kelelahan pasien dan meningkatkan asupan makanan karena mudah ditelan. 4. Untuk menghindari mual dan mentah. 5. Meningkatkan pengetahuan pasien tentang nutrisi sehingga motovasi untuk makan meningkat. 6. Memotivasi dan meningkatkan semangat pasien. 7. Untuk mengetahui pemenuhan nutrisi pasien. 8. Nutrisi parenteral sangat bermanfaat/dibutuhkan pasien terutam jika intake per oral sangat kurang. Jenis dan jumlah pemberian nutrisi parenteral merupakan wewenang dokter. |
| 5. | Resiko infeksi b.d prosedur invasif. | Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, maka diharapkan Tidak terjadi infeksi dengan kriteria hasil : 1. Menunjukkan tanda-tanda bebas dari infeksi 2. Mengetahui tanda-tanda infeksi 3. Mempertahankan jumlah sel darah putih dalam batas normal 4. Mendemonstrasikan secara tepat perawatan infeksi | 1. Lakukan teknik aseptik saat melakukan tindakan pemasangan infus. 2. Mengobservasi daerah pemasangan infus setiap hari. 3. Observasi TTV | 1. Teknik aseptik merupakan tindakan preventif terhadap kemungkinan terjadi infeksi. 2. Untuk mengetahui tanda infeksi secara dini. 3. Infeksi dapat diketahui dari penyimpangan nilai TTV |
| 6. | Intoleransi aktivitas b.d kelemahan menyeluruh. | Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, maka diharapkan Aktivitas klien kembali normal dengan kriteria hasil : 1. Berpartisipasi dalam aktivitas fisik yang telah ditentukan dengan peningkatan yang tepat pada denyut jantung, tekanan darah dan pernapasan 2. Memelihara warna kulit normal dan kulit tetap hangat serta kering dengan adanya aktivitas 3. Mengungkapkan pemahaman pada kebutuhan untuk peningkatan aktivitas secara bertahap 4. Meningkatkan toleransi aktivitas | 1. Kaji hal-hal yang mampu atau tidak mampu dilakukan oleh klien sehubungan dengan kelemahan fisiknya. 2. Bantu klien memenuhi kebutuhan aktivitasnya sesuai dengan tingkat keterbatasan. 3. Bantu klien untuk mandiri sesuai dengan perkembangan kemajuan fisiknya. 4. Jelaskan tentang hal-hal yang dapat membantu dan meningkatkan kekuatan fisik klien. | 1. Untuk mengetahui tingkat ketergantungan klien dalam memenuhi kebutuhannya. 2. Klien membutuhkan bantuan dalam aktivitas karena kelemahan. 3. Dengan melatih kemandirian klien, maka klien tidak mengalami ketergantungan. 4. Dengan penjelasan yang diberikan maka klien termotivasi untuk meningkatkan kekuatan fisiknya. |
| 7. | Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi. | Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, maka diharapkan Pengetahuan klien meningkat dengan kriteria hasil : 1. Mengungkapkan tentang penyakit, mengenal kebutuhan pengobatan, memahami pengobatan 2. Mengungkapkan kemampuan untuk bekerjasama dalam mengontrol status kesehatan 3. Mengungkapkan sumber-sumber yang dapat digunakan sebagai sumber informasi atau aspek pendukung | 1. Mengkaji tingkat pengetahuan pasien/keluarga tentang penyakit Dengue Hemorrhagic Fever. 2. Mengkaji latar belakang pendidikan pasien/keluarga 3. Menjelaskan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan obat-obatan pada pasien dengan bahasa dan kata-kata yang mudah dimengerti. 4. Menjelaskan semua prosedur yang akan dilakukan dan manfaatnya bagi pasien. 5. Memberikan kesempatan pada pasien/keluarga untuk menanyakan hal-hal yang ingin diketahui sehubungan dengan penyakit yang dialami pasien. 6. Menggunakan leaflet atau gambar-gambar dalam memberikan penjelasan ( jika ada/memungkinkan ). | 1. Untuk memberikan informasi pada pasien/keluarga, perawat perlu mengetahui sejauh mana informasi atau pengetahuan tentang penyakit yang diketahui pasien serta kebenaran informasi yang telah didapatkan sebelumnya. 2. Agar perawat dapat memberikan penjelasan sesuai dengan tingkat pendidikan mereka sehingga penjelasan dapat dipahami dan tujuan direncanakan tercapai. 3. Agar informasi dapat diterima dengan mudah dan tepat sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman. 4. Dengan mengetahui prosedur atau tindakan yang dialami pasien akan kooperatif dan kecemasannya menurun. 5. mengurangi kecemasan dan memotovasi pasien untuk kooperatif selama masa perawatan atau penyembuhan. 6. Gambar-gambar atau media cetak seperti leaflet dapat membantu mengingat penjelasan yang telah diberikan karena dapat dilihat atau dibaca berulang kali. |
REFERENSI
Bherman, 2000, Nelson-Ilmu Kesehatan Anak, vol. 3, EGC, Jakarta
Black, M, Joyce, et. al, 1997, Medical Surgical Nursing : Clinical Management for Continuity of Care, 5th edition, Vol. 1, W.B. Saunders Company, Philadelphia, New York
Boyles, Bonita, E, RN, BSN, 1999, Ashwill and Doske. Clinical Companion for Nursing Care of Children Principles and Practice, W.B. Sounders Company, Philadelphia
Doenges, Marilynn E, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien ed. 3, EGC, Jakarta
Engel, Joyce, 1999, Pengkajian Pediatrik, eds. 2, EGC, Jakarta
Gaffar, La Ode Jumadi, 1997, Pengantar Keperawatan Profesional, EGC, Jakarta
Google, 2005. Demam Berdarah Dengue, http://www.google.com
Hudak & Gallo, 1997, Keperawatan Kritis, Pendekatan Holistik, eds. 5, vol. 2, EGC, Jakarta
Medicastore, 2004, Demam Berdarah, http : // www.medicastore. Com
Ngastiyah, 1997, Perawatan Anak Sakit, EGC Jakarta.
Nurachmah, Elly, 2001, Nutrisi Dalam Keperawatan, CV. Sagung Seto, Jakarta
Nursalam, 2000, Proses dan Dokumentasi Keperawatan Konsep dan Praktik, Yayasan IAPK Pajajaran, Bandung
Potter, Patricia A, 1997, Fundamental of Nursing, Consept, Process and Practice, 4th, Mosby-Year Book, inc, St. Louise-Missouri
Price, Sylvia Anderson, 2005, Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, edisi 4, jilid 2, Jakarta : EGC
Robert Priharjo, 1997, Pengkajian Fisik Keperawatan, EGC, Jakarta
Sloane, Ethel, 2004, Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula, EGC, Jakarta
Smeltzer, Suzanne C, 1995, Keperawatan Medikal Bedah, Vol 1, EGC, Jakarta
Suryadi, 2001, Asuhan Keperawatan Pada Anak, PT Fajar Inter Pratama, Jakarta
Who, 2005, Dengue and Dengue Haemorragic Fever, http:/who.int.com
Wong, Donna L, 2002, Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik, eds. 4, EGC Jakarta
Wong, Donna L, 2002, Whaley & Wong’s. Nursing Care of Infant and Children, 57h, vol. 1, Mosby-Year Book, inc, St. Louise, Missouri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar